Heemm Tapi Dia Bae Banget :D
Guys, kali ini topiknya tentang pacaran beda agama. Benernya kalo bicara soal boleh atau tidak boleh, jawabannya as clear as the sky. Nggak boleh. WHY ? Because the bible said so.
"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?" (2Kor 6:14)
DONE. :) But now, I want to go a little deeper.
"Kenapa pertanyaan ini bisa muncul? Kalau sebenarnya jawabannya udah jelas banget, kenapa tetep ada orang-orang yang menanyakan hal ini?"
Salah satu alasan yangs sering gue denger adalah,
"Cowok ini baek sekali ce... Jauh lebih baek daripada temen2ku yang Kristen. Bertanggung jawab, kerjanya bener, sopan. Aku pernah beberapa kali deket sama cowok yang Kristen tapi mereka tuh nggak sebaek cowok ini."
Memang, itu fakta. Nggak jaminan cowok Kristen itu lebih baik daripada cowok yang bukan Kristen. Kadang justru orang-orang non Kristen itu lebih baik, lebih sabar, lebih pengertian, lebih romantic, lebih bertanggung jawab, lebih sayang anak-anak, lebih dewasa, ngatur uang lebih pinter, dan segala lebih-lebih yang laennya.
"Trus kalo gitu, nggak papa donk cee..?"
Guys, a good man is not enough but build a good marriage. A GOOD MAN IS NOT ENOUGH. Beneran guys, is not enough. MARRIAGE LIFE IS WONDERFUL BUT ALSO VERY TOUGH. That's why only a good man is not enough.
I'll tell you why it's not enough
Di dalam buku Fit To Be Tield, Bill Hybels, ada 3 alasan kenapa Tuhan memberi perintah untuk HANYA menikah dengan orang-orang seiman.
Common Treasures
Guys, kalo kalian sudah bener-bener lahir baru dan punya hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus, you'll know that God is our most precious treasures. Tuhan itu harta kita yang paling berharga. Kalau kamu pernah ngerasain, hatimu dijamah, disentuh sama Tuhan, kamu pasti tau bahwa Yesus itu bener-bener yang paling utama dan paling berharga.
Nah, ketika kita menikah, kita tentu berharap kita bisa membagi kehidupan kita dengan orang yang sangat kita sayang. Kita bermimpi bisa share our dreams, share our laugh, share our hobbies, pokoknya share everything. And kalo Yesus bener-bener yang utama dalam hati kita, tentunya kita pengen juha share itu ke pasangan kita! Tapi apa jadinya kalo pasangan kita ngga merasa bahwa Tuhan itu yang utama?
Bill Hyles cerita tentang seorang wanita yang sehabis kebaktian dateng nyampirin Bill dan bilang,
"Do you know what it's like to go home after a servive like this and be so filled with Gods grace that you think you're going to explode - but you can't that with your spouse? It's awful. God has forgiven me from my disobedience, but everyday I live with the pain of the mistake I made years ago." (Fit to be tied, page 49)
Gue terpana pas baca itu. And mikir, bener juga. Rasanya pasti menyakitkan , kalo gue pulang kebaktian, and dikuatkan luar biasa oleh khotbah atau piji-pujian, or gue mendapat banyak berkat rohani, kita lagi berapi-api banget and penuh semangat berkobar-kobar, tapi bukannya denger suami kita bilang, "Wah Tuhan emank luar biasa!", bukannya ngeliat dia tersenyum dan minta kitra cerita lebih banyak lagi, yang kita dapatkan justru suami yang bengong, tetep asik nonton TV, atau malah bilang, "Ngomong apa sih kamu?"
THAT WILL BE AWFUL!
Atau ketika kita lagi sedih, lagi down, lagi butuh dikuatkan, bukannya suami yang bisa mendoakan kita, bacain alkitab, ingetin khotbah Pdt minggu lalu, tapi suami kita cuma diem aja. Atau bahkan kita nggak berani share, karena takut dianggap, "Orang Kristen kok kerjanya ngeluh mulu, katanya Tuhanmu hebat."
Salah satu saat-saat paling indah dalam pernikahan gue, adalah ketika gue lagi takut, lagi kuatir, and gue bisa dengan bebasnya bilang sama suami gue, "Hun, aku takut, aku takut banget. Tolong doain donk." and abis itu suami gue bakal doain gue. Rasanya tuh lega, and bersyukur punya suami yang bisa sama-sama diajak masuk ke takhta Kasih Karunia Tuhan. Sama-sama bisa berlutut and bicara pada Tuhan yang sama tentang apapun.
Common Blueprints
Guys, ketika kita menikah, kita masing-masing masuk ke pernikahan dengan idealisme dan impian masing-masing. And seringkali impian itu terbentuk dari pernikahan orang tua kita. Entah kita pengen punya pernikahan seperti mereka atau kita justru NGGA PENGEN punya pernikahan seperti mereka.
Masalahnya, seringkali, standard kita dan pasangan kita berbeda, karena keluarga kita berbeda. Nilai-nilai yang dianut berbeda.
Nah, ketika kita dan pasangan kita sama-sama orang percaya kepada Yesus, kita tau bahwa standard yang harusnya menjadi standard kita adalah Alkitab. And ketika kita menemui masalah dalam pernikahan, kita tau kemana harus mencari jawaban. Di dalam Alkitab! Tapi apa jadinya, kalo kita dan pasangan kita punya standard yang berbeda? Pusink toh.
And begitu juga dengan mendidik anak. Kita perlu blueprint, anak-anak ini mau dididik seperti apa. Kita mau mereka jadi anak yang seperti apa. Alkitab jelas kasih blueprint buat mendidik anak. Tapi apa jadinya kalo kita pengen menuruti perintah Alkitab tapi pasangan kita tidak??
Minggu lau, suami sama gue pergi ke seminar parenting di sebuah gereja, And it really touched my heart, ketika ada kebenaran-kebenaran FT yang penting dalam mendidik anak, suami gue buru-buru catet and kadang-kadang, dia usap-usap perut gue dengan tampang serius. He didn't say anything but i knew from his serious face that he'll take the responsibility to teah our kids in God's way very seriously. And sebagai calon nyokap, ngga ada yang lebih menggembirakan selaen tau bahwa gue nggak harus memikul beban mendidik anak-anak di dalam Tuhan sendirian, but I have my God and my Husband as my teammate!
Tapi apa jadinya kalo kita punya kerinduan anak-anak dididik cinta Tuhan, melayani di Gereja, tapi pas kita mo ngajarin dia berdoa makan aja, ayahnya bilang, "Ngapain doa-doa? Emank Tuhan yang kasih kamu beras? Kan Papa yang kerja keras!" That will be awful!

0 comments:
Post a Comment